Senin, 04 Februari 2013

DEWA di KOTA PAHLAWAN

Diposting oleh kheptin di 01.02



            Dunia itu luas, dan aku ingin membaginya dengan kalian.Hai , kenalin aku Deandra.Aku terlahir normal dan sekolah disekolah normal juga.Mungkin kali ini adalah suatu hal yang bisa dianggap aneh atau nyeleneh dalam bahasa jawa tapi ini benar adanya.Walaupun bisa dibilang aku terlahir diantara keluarga yang bisa dibilang mampu secara materi dan  beruntungnya aku juga termasuk murid yang pandai disekolah paling bergengsi dikota Lunpia ini tapi tidak mengurungkan niatku untuk menekuni dunia fotografi daripada harus melanjutkan sekolah diperguruan tinggi.Hobiku ini mungkin sudah mulai merebak dikalangan anak muda.Hobiku ini mulai terlihat saat aku masih duduk dibangku kelas tiga smp.Karna saat itu aku berhasil mendapat peringkat satu secara pararel aku mendapat hadiah kamera SLR.Dari situ aku mulai mencoba-coba cara mengambil fto dengan baik.Aku yakin bahwa seni foto akan membawaku pada suatu masa.Dimana masa itu dipenuhi dengan seni dan juga satu hal yang belum pernah aku rasakan, yaitu cinta.

            “Dea, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu?” tanya mama ragu.
            “Iya ma, aku udah yakin sama pilihanku, aku juga akan bekerja sama dengan teman-temanku difotografikota” kataku tegas.”Kalau kuliah kan kamu bisa ketemu teman banyak dari kota lain pula,jadi kamu bisa milih mana yang mau dijadiin pacar”tanya kak Anji sambil bercanda.”Iih kakak apaan sih,lagian jadi fotografer juga bakalan ketemu orang banyak, untuk kuliah nanti aku lanjutkan satu atau dua tahun lagi umurkukan masih cukup” jawabku dengan nada maslas.
            Ya memang aku belum pernah mengenal cinta walaupun kebanyak dari temanku adalah laki-laki.Aku hanya menganggap mereka sahabat atau saudara nggak lebih dari itu.Pernah suatu waktu Tio mencoba mendekatiku berharap mau menjadikanku bukan seorang teman/saudara tapi seorang pacar.Alhasil setelah beberapa lama mendekati usaha Tio sia-sia.Aku tetap menolak permintaan Tio.Tapi tak lantas kami berjauh-jauhan justru semakin akrab dengan status teman walaupun sudah beberapa bulan tidak bertemu.Sebenarnya ada alasan tertentu mengapa aku tidak terlalu memikirkan hal seperti cinta atau seorang pacar.Pengalaman teman-temannya yang terlalu banyak kesedihan dibanding kebahagian pada status berpacaran itu salah satu penyebabnya.
            “Ya sudah, Deandra besok kamu brangkat jam brapa?” tanya mama penasaran.”Sekitar jam tiga lewat lima belas menit ma, itu juga kalo nggak delay” jawabku.”Yaudah sana-sana tidur, udah malem loo” perintah mama sembari meminum minuman yang ada ditangannya.Langsung saja aku bergegas kekamar untuk istirahat sejenak sebelum aktivitas menyerbu lagi.

~~~~

“Deandra..Deandraa ayo banguun” suara mama yang lantang membuat mata ini yang tadi terpejam membuka perlahan, badan ini yang semula lemas menjadi semakit kuat dan terbangun.Daripada mengulur waktu segera aku mengumpulkan niatan untuk mandi sembari mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi.

“Deaa buruan sarapan abis itu capcus langsung hunfot bareng kakak”
“Iya kaak, sabar doong ini juga udah sarapan kok tinggal berangkat”
“Yaudah ayo!” perintah kak Anji sambil menarikku mengarahkan pada pintu mobil yang sudah siap untuk dibuka.Perjalanan dimulai kali ini sebelum berangkat ke Surabaya aku akan mengambil beberapa foto kota Semarang yang eksotis ini diantaranya aku ambil suasana di kota lama dimana banyak gedung-gedung banguna tua peninggalan belanda.Tak lupa aku juga mengambil potret orang-orang yang sedang mencari nafkah diantara mobil-mobil.Ditengah-tengah asik mengambil potret seorang anak jalanan tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang dengan tangan yang menepuk pundakku.
“Hai, Dea ya”

“Yaa” jawabku dengan menghela nafas sambil memutar lagi memori didalam otakku.“Ooow Tio”
“Waah, masih inget rupanya? Apa kabar kamu dra?”
“Emm baik kok, oke oke aja, kamu sendiri gimana? Baikkan?”
“Aku baik kok” jawabnya sambil merusak tatanan rambutku dengan sedikit tawa.
            Gayanya yang humoris dan tidak membosankan membuat percakapan kami meluap sampai lupa waktu.Diantara percakapan itu juga aku merasakan suatu rasa yang berbeda, entah apa aku tak bisa mengatakannya.Jam mulai menampakkan keangkuhannya, detik demi detik digantikannya dengan menit dan digantikannya lagi dengan jam.Kita berpisah.
“hey, jangan lupa ya” kata Tio sambil melambaikan genggaman tangan dengan hpnya itu.Aku hanya tersenyum dengan senyuman pasti.

~~~~

            “Kamu baik-baik ya di Surabaya jangan nakal, jangan lupa ibadah,makan,…”pesan mama dengan tangan yang berada dipipiku.Pesan mama itu juga belum habis, kak Anji menambahnya.Sebenarnya dibalik sikap kak Anji yang nyebelin terselip juga perasaan sayang yang begitu tinggi.Ini yang membuat aku terharu.Walaupun penerbangan bisa delay tapi niatku nggak bisa kalau harus delay.Waktunya untuk berangkat, yeaah.Nggak sabar untuk turun dan menginjak tanah kota pahlawan.Sepanjang diatas awan, aku hanya diam sembari mendengar music.Nggak kerasa aku terlelap manis dipangkuan kursi pesawat ini.Sampai akhirnya seseorang dengan rambut panjang mengusikku.”Hey mbak bangun, udah sampe ini” katanya dengan logat Surabanya banget.Sontak aku bergegas dan turun dari pesawat.Rasanya lega banget kalau boleh aku teriak ingin rasanya teriak untuk mengungkapkan rasa lega,tapi tak mungkin.Yasudahlah, pakde dan sepupu sudah menungguku diluar jadi aku harus segera menemuinya.
            Senyuman dan pelukan hangat mereka merupakan suatu pembuka yang mebuat api semangat semakin membara.Setelah itu pakde dan sepupuku langsung membawaku kerumahnya.Walaupu rumah tidak terlalu besar tapi bisa memberikan kesan nyaman dan tidak sumpek.Lingkungannya yang hijau juga membuat gairah menatap masa depan semakin mantap.

~~~~~

            Malam pertama.Semalam merupakan suatu awal pertemuan yang sangat menyenangkan hati.Dan sekarang aku memualai aktivitas baru dimana berbeda dengan anak seusiaku.Ya sekarang aku mulai membangun kembali bisnis pakde yaitu fotografi.Aku yakin dengan trik-trik baru yang sudah aku daapat dari dunia maya dan teman-teman, aku bisa membangkitka lebih tinggi usaha ini dibanding bisnis fotografi lainnya.Selama beberapa bulan aku sempat mendapat job untuk mendokumentasikan dari mulai acara ulang tahun sampai pernikahan.
“Pakde sangat senang dengan hadirnya kamu, usaha fotografi ini semakin baik bahkan sudah mulai terkenal”puji pakde kepadaku dengan sedikit candaannya yang hangat ditelinga.
”Ini semua juga karena pakde yang sudah mau membuka peluang buat aku” balasku sambil tersipu malu.Aku sangat bersyukur atas pemberian kelebihan Tuhan kepadaku.Dengan kelebihanku ini aku bisa mengumpulkan beberapa point, dari materi sampai teman.Nggak kerasa aku udah setahun menggeluti usaha fotografi ini.Rasanya aku kangen dengan kegiatan belajar kayak dulu kalau sekolah.Eeem aku sempat berfikir...

0 komentar:

Posting Komentar

 

m e n t a r y ✿ Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos