Dunia itu
luas, dan aku ingin membaginya dengan kalian.Hai , kenalin aku Deandra.Aku
terlahir normal dan sekolah disekolah normal juga.Mungkin kali ini adalah suatu
hal yang bisa dianggap aneh atau nyeleneh dalam bahasa jawa tapi ini benar
adanya.Walaupun bisa dibilang aku terlahir diantara keluarga yang bisa dibilang
mampu secara materi dan beruntungnya aku
juga termasuk murid yang pandai disekolah paling bergengsi dikota Lunpia ini
tapi tidak mengurungkan niatku untuk menekuni dunia fotografi daripada harus
melanjutkan sekolah diperguruan tinggi.Hobiku ini mungkin sudah mulai merebak
dikalangan anak muda.Hobiku ini mulai terlihat saat aku masih duduk dibangku
kelas tiga smp.Karna saat itu aku berhasil mendapat peringkat satu secara
pararel aku mendapat hadiah kamera SLR.Dari situ aku mulai mencoba-coba cara
mengambil fto dengan baik.Aku yakin bahwa seni foto akan membawaku pada suatu
masa.Dimana masa itu dipenuhi dengan seni dan juga satu hal yang belum pernah
aku rasakan, yaitu cinta.
“Dea, apa
kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu?” tanya mama ragu.
“Iya ma, aku udah yakin sama pilihanku, aku juga akan bekerja sama dengan teman-temanku difotografikota” kataku tegas.”Kalau kuliah kan kamu bisa ketemu teman banyak dari kota lain pula,jadi kamu bisa milih mana yang mau dijadiin pacar”tanya kak Anji sambil bercanda.”Iih kakak apaan sih,lagian jadi fotografer juga bakalan ketemu orang banyak, untuk kuliah nanti aku lanjutkan satu atau dua tahun lagi umurkukan masih cukup” jawabku dengan nada maslas.
Ya memang aku belum pernah mengenal cinta walaupun kebanyak dari temanku adalah laki-laki.Aku hanya menganggap mereka sahabat atau saudara nggak lebih dari itu.Pernah suatu waktu Tio mencoba mendekatiku berharap mau menjadikanku bukan seorang teman/saudara tapi seorang pacar.Alhasil setelah beberapa lama mendekati usaha Tio sia-sia.Aku tetap menolak permintaan Tio.Tapi tak lantas kami berjauh-jauhan justru semakin akrab dengan status teman walaupun sudah beberapa bulan tidak bertemu.Sebenarnya ada alasan tertentu mengapa aku tidak terlalu memikirkan hal seperti cinta atau seorang pacar.Pengalaman teman-temannya yang terlalu banyak kesedihan dibanding kebahagian pada status berpacaran itu salah satu penyebabnya.
“Ya sudah, Deandra besok kamu brangkat jam brapa?” tanya mama penasaran.”Sekitar jam tiga lewat lima belas menit ma, itu juga kalo nggak delay” jawabku.”Yaudah sana-sana tidur, udah malem loo” perintah mama sembari meminum minuman yang ada ditangannya.Langsung saja aku bergegas kekamar untuk istirahat sejenak sebelum aktivitas menyerbu lagi.
“Iya ma, aku udah yakin sama pilihanku, aku juga akan bekerja sama dengan teman-temanku difotografikota” kataku tegas.”Kalau kuliah kan kamu bisa ketemu teman banyak dari kota lain pula,jadi kamu bisa milih mana yang mau dijadiin pacar”tanya kak Anji sambil bercanda.”Iih kakak apaan sih,lagian jadi fotografer juga bakalan ketemu orang banyak, untuk kuliah nanti aku lanjutkan satu atau dua tahun lagi umurkukan masih cukup” jawabku dengan nada maslas.
Ya memang aku belum pernah mengenal cinta walaupun kebanyak dari temanku adalah laki-laki.Aku hanya menganggap mereka sahabat atau saudara nggak lebih dari itu.Pernah suatu waktu Tio mencoba mendekatiku berharap mau menjadikanku bukan seorang teman/saudara tapi seorang pacar.Alhasil setelah beberapa lama mendekati usaha Tio sia-sia.Aku tetap menolak permintaan Tio.Tapi tak lantas kami berjauh-jauhan justru semakin akrab dengan status teman walaupun sudah beberapa bulan tidak bertemu.Sebenarnya ada alasan tertentu mengapa aku tidak terlalu memikirkan hal seperti cinta atau seorang pacar.Pengalaman teman-temannya yang terlalu banyak kesedihan dibanding kebahagian pada status berpacaran itu salah satu penyebabnya.
“Ya sudah, Deandra besok kamu brangkat jam brapa?” tanya mama penasaran.”Sekitar jam tiga lewat lima belas menit ma, itu juga kalo nggak delay” jawabku.”Yaudah sana-sana tidur, udah malem loo” perintah mama sembari meminum minuman yang ada ditangannya.Langsung saja aku bergegas kekamar untuk istirahat sejenak sebelum aktivitas menyerbu lagi.
~~~~
“Deandra..Deandraa ayo banguun” suara mama yang lantang
membuat mata ini yang tadi terpejam membuka perlahan, badan ini yang semula
lemas menjadi semakit kuat dan terbangun.Daripada mengulur waktu segera aku
mengumpulkan niatan untuk mandi sembari mengambil handuk dan berjalan menuju
kamar mandi.
“Deaa buruan sarapan abis itu capcus langsung hunfot bareng
kakak”
“Iya kaak, sabar doong ini juga udah sarapan kok tinggal berangkat”
“Yaudah ayo!” perintah kak Anji sambil menarikku mengarahkan pada pintu mobil yang sudah siap untuk dibuka.Perjalanan dimulai kali ini sebelum berangkat ke Surabaya aku akan mengambil beberapa foto kota Semarang yang eksotis ini diantaranya aku ambil suasana di kota lama dimana banyak gedung-gedung banguna tua peninggalan belanda.Tak lupa aku juga mengambil potret orang-orang yang sedang mencari nafkah diantara mobil-mobil.Ditengah-tengah asik mengambil potret seorang anak jalanan tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang dengan tangan yang menepuk pundakku.
“Hai, Dea ya”
“Iya kaak, sabar doong ini juga udah sarapan kok tinggal berangkat”
“Yaudah ayo!” perintah kak Anji sambil menarikku mengarahkan pada pintu mobil yang sudah siap untuk dibuka.Perjalanan dimulai kali ini sebelum berangkat ke Surabaya aku akan mengambil beberapa foto kota Semarang yang eksotis ini diantaranya aku ambil suasana di kota lama dimana banyak gedung-gedung banguna tua peninggalan belanda.Tak lupa aku juga mengambil potret orang-orang yang sedang mencari nafkah diantara mobil-mobil.Ditengah-tengah asik mengambil potret seorang anak jalanan tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang dengan tangan yang menepuk pundakku.
“Hai, Dea ya”
“Yaa” jawabku dengan menghela nafas sambil memutar lagi memori
didalam otakku.“Ooow Tio”
“Waah, masih inget rupanya? Apa kabar kamu dra?”
“Emm baik kok, oke oke aja, kamu sendiri gimana? Baikkan?”
“Aku baik kok” jawabnya sambil merusak tatanan rambutku dengan sedikit tawa.
Gayanya yang humoris dan tidak membosankan membuat percakapan kami meluap sampai lupa waktu.Diantara percakapan itu juga aku merasakan suatu rasa yang berbeda, entah apa aku tak bisa mengatakannya.Jam mulai menampakkan keangkuhannya, detik demi detik digantikannya dengan menit dan digantikannya lagi dengan jam.Kita berpisah.
“hey, jangan lupa ya” kata Tio sambil melambaikan genggaman tangan dengan hpnya itu.Aku hanya tersenyum dengan senyuman pasti.
“Waah, masih inget rupanya? Apa kabar kamu dra?”
“Emm baik kok, oke oke aja, kamu sendiri gimana? Baikkan?”
“Aku baik kok” jawabnya sambil merusak tatanan rambutku dengan sedikit tawa.
Gayanya yang humoris dan tidak membosankan membuat percakapan kami meluap sampai lupa waktu.Diantara percakapan itu juga aku merasakan suatu rasa yang berbeda, entah apa aku tak bisa mengatakannya.Jam mulai menampakkan keangkuhannya, detik demi detik digantikannya dengan menit dan digantikannya lagi dengan jam.Kita berpisah.
“hey, jangan lupa ya” kata Tio sambil melambaikan genggaman tangan dengan hpnya itu.Aku hanya tersenyum dengan senyuman pasti.
~~~~
“Kamu
baik-baik ya di Surabaya jangan nakal, jangan lupa ibadah,makan,…”pesan mama
dengan tangan yang berada dipipiku.Pesan mama itu juga belum habis, kak Anji
menambahnya.Sebenarnya dibalik sikap kak Anji yang nyebelin terselip juga
perasaan sayang yang begitu tinggi.Ini yang membuat aku terharu.Walaupun
penerbangan bisa delay tapi niatku nggak bisa kalau harus delay.Waktunya untuk
berangkat, yeaah.Nggak sabar untuk turun dan menginjak tanah kota
pahlawan.Sepanjang diatas awan, aku hanya diam sembari mendengar music.Nggak
kerasa aku terlelap manis dipangkuan kursi pesawat ini.Sampai akhirnya
seseorang dengan rambut panjang mengusikku.”Hey mbak bangun, udah sampe ini”
katanya dengan logat Surabanya banget.Sontak aku bergegas dan turun dari
pesawat.Rasanya lega banget kalau boleh aku teriak ingin rasanya teriak untuk
mengungkapkan rasa lega,tapi tak mungkin.Yasudahlah, pakde dan sepupu sudah
menungguku diluar jadi aku harus segera menemuinya.
Senyuman dan pelukan hangat mereka merupakan suatu pembuka yang mebuat api semangat semakin membara.Setelah itu pakde dan sepupuku langsung membawaku kerumahnya.Walaupu rumah tidak terlalu besar tapi bisa memberikan kesan nyaman dan tidak sumpek.Lingkungannya yang hijau juga membuat gairah menatap masa depan semakin mantap.
Senyuman dan pelukan hangat mereka merupakan suatu pembuka yang mebuat api semangat semakin membara.Setelah itu pakde dan sepupuku langsung membawaku kerumahnya.Walaupu rumah tidak terlalu besar tapi bisa memberikan kesan nyaman dan tidak sumpek.Lingkungannya yang hijau juga membuat gairah menatap masa depan semakin mantap.
~~~~~
Malam
pertama.Semalam merupakan suatu awal pertemuan yang sangat menyenangkan
hati.Dan sekarang aku memualai aktivitas baru dimana berbeda dengan anak
seusiaku.Ya sekarang aku mulai membangun kembali bisnis pakde yaitu
fotografi.Aku yakin dengan trik-trik baru yang sudah aku daapat dari dunia maya
dan teman-teman, aku bisa membangkitka lebih tinggi usaha ini dibanding bisnis
fotografi lainnya.Selama beberapa bulan aku sempat mendapat job untuk
mendokumentasikan dari mulai acara ulang tahun sampai pernikahan.
“Pakde sangat senang dengan hadirnya kamu, usaha fotografi ini semakin baik bahkan sudah mulai terkenal”puji pakde kepadaku dengan sedikit candaannya yang hangat ditelinga.
”Ini semua juga karena pakde yang sudah mau membuka
peluang buat aku” balasku sambil tersipu malu.Aku sangat bersyukur atas
pemberian kelebihan Tuhan kepadaku.Dengan kelebihanku ini aku bisa mengumpulkan
beberapa point, dari materi sampai teman.Nggak kerasa aku udah setahun
menggeluti usaha fotografi ini.Rasanya aku kangen dengan kegiatan belajar kayak
dulu kalau sekolah.Eeem aku sempat berfikir... “Pakde sangat senang dengan hadirnya kamu, usaha fotografi ini semakin baik bahkan sudah mulai terkenal”puji pakde kepadaku dengan sedikit candaannya yang hangat ditelinga.
0 komentar:
Posting Komentar