kalau taun depan adalah waktu yang tepat untuk melanjutkan untuk kuliah.Menurut pakde dan orang tua itu sih nggak masalah asal aku harus konsisten.
Berkas-berkas yang diperlukan untuk mendaftar sudah siap.Dan inilah hari pendaftaran.Melihat ratusan anak sma mendaftar rasanya nyali mulai menciut.Tapi aku tetap mengusahakan agar tenang dan berfikir positif.Setelah semua beres, aku mendapat jadwal untuk test.Sembari menunggu hari H aku mulai mengurangi untuk kegiatan fotografi dan focus pada pelajaran.
“Sudah siap??” tanya pakde
“Siap” jawabku tegas sambil menghela nafas.
Selama kurang lebih 20 menit perjalanan menuju tempat tes.Aku segera menuju tempat pelaksanaanku.Rasanya campur aduk banget, duduk diantara anak-anak yang pastinya lebih muda dan lebih banyak waktu untuk mempelajari mapel yang diujikan.Selama dua hari berturut-turut tes dilaksanakan.Rasanya otakku mau pecah menghadapi tes itu.Yaah tinggal menghitung hari ajalah untuk mendapat hasil itu.
Hari-hari itu aku isi lagi dengan kegiatan fotografi sampai akhirnya aku menemukan seseorang.Seseorang itu ternyata yang sudah membangunkan aku waktu di pesawat.Aku sempat lupa karena waktu itu tampilannya tidak seperti sekarang yang lebih rapi dan tampak cerah.Aku juga sempat bingung kenapa orang ini masih saja ingat.Tapi dari situlah percakapan diantara kami dimulai dan kami saling mengenal.Ternyata namanya nggak jauh beda dengan nama kakakku sendiri yaitu Aji.Ditengah-tengah percakapan aku bisa melihat dia,dari cara berbicara,dari cara menatap dan member senyuman sepertinya dia orang yang dekat sekali dengan buku dan ilmu.
”Eh, nggak kerasa udah sore, aku harus pulang nih”
ijinku.”Okedeh, perlu aku anter?”ajaknya.Kesempatan nggak dating dua kali guys,
so aku terima aja tawaran itu.Itung-itung sambil mengenal lebih dekat.
“Depan belok kiri ya Ji” perintahku.
Akhirnya mobil Jazz biru soft iyang aku tumpangi sudah berhenti tepat didepan rumah, aku bergegas keluar.Tak lupa juga aku mengucap terimakasih ke Aji dengan wajah malu-malu.Aji juga membalasnya dengan senyuman.
“Depan belok kiri ya Ji” perintahku.
Akhirnya mobil Jazz biru soft iyang aku tumpangi sudah berhenti tepat didepan rumah, aku bergegas keluar.Tak lupa juga aku mengucap terimakasih ke Aji dengan wajah malu-malu.Aji juga membalasnya dengan senyuman.
Eh nggak kerasa mala mini ternyata pengumuman.Dengan perasan
dag-dig-dug aku membuka daftar itu.Perlahan mataku mencari-cari namaku, dann..
yee aku keterima.Aku bersyukur banget bisa masuk dijurusan sesuai harapan dan
universitas bergengsi di kota Pahlawan ini , yaitu Psikologi, yeaah.Malam itu
aku larut dalam kebahagiaan.Tak lupa aku mengabari keluargaku di Semarang.
~~~~~
Hari-hariku
kali ini mulai disibukkan lagi dengan kuliah dan acara-acara mahasiswa lainnya
tapi aku tak lantas meninggalkan dunia fotografiku.Sampai-sampai Aji muncul
lagi dihadapanku.Ternyata dia juga berada disatu Universitas denganku.Aji
sangat perhatian terhadapku seperti Tio dulu.Aku merasakan hal yang belum
pernah aku rasakan sebelumnya.Sekarang aku tau, itu adalah cinta.Sempat aku
berfikir akan berpacaran dengannya.Tapi itu semua juga tergantung Aji.Dan
sebenarnya aku juga masih takut untuk mengambil putusan itu, tapi aku mencoba
mengikisnya secara perlahan.Selain itu sepertinya tidak perlua pacaran karena
kontak masih ada aku masih bisa tau keadaannya seperti apa.Sekita enam bulan
kami dekat layaknya sepasang kekasih.Tapi itu salah adanya.Kami tidak
berpacaran, padahal aku merasa sudah mulai membuka hati.
Semakin menghadapi hari didepan justru Aji mulai menjauh dariku.Aku sempat khawatir, apakah aku akan mengalami hal yang sama seperti temanku? Kehilangan orang yang dicintainya.Aku mencoba memperkecil dugaan demi dugaan dengan memfokuskan diri pada kuliahku.Sudah hamper setahun Aji mulai menjauh sampai akhirnya tidak terasa lagi dekapan itu.
Memang umur orang tidak tahu sampai berapa.Aku sangat sedih ketika aku tau bahwa Aji mengidap Kanker otak.Yang sekarang sudah mulai menambah menuju stadium akhir.Saat itu hati rasanya terpukul, mengapa tinggal dihari-hari terkhir aku bisa bertemu dengan orang yang selama ini telah mengenalkanku pada sebuah rasa manis dengan taburan kasih sayang didalamnya?.Serasa hari-hariku diliputi pertanyaan-pertanyaan penyeselaan.Apakah aku memang tidak pantas mencintai dan dicintai? Baru saja aku merasakan rasa cinta itu aku sudah ditinggalkan oleh Aji.Selamat jalan Aji, semoga kamu mendapat tempat terbaik diSana.
Kini hari-hariku mulai agak sepi karena tak ada lagi yang menemaniku hunfot,bercanda, dan bermain-main.Kali ini aku hanya bisa mengisi dengan fakus pada fotografi dan cita-citaku sebagai seorang psikologi.Beberapa hari aku masih menyimpan kesedihan, tapi lagi-lagi aku coba menepisnya dengan prestasi dibidang psikologi maupun foto.
Semakin menghadapi hari didepan justru Aji mulai menjauh dariku.Aku sempat khawatir, apakah aku akan mengalami hal yang sama seperti temanku? Kehilangan orang yang dicintainya.Aku mencoba memperkecil dugaan demi dugaan dengan memfokuskan diri pada kuliahku.Sudah hamper setahun Aji mulai menjauh sampai akhirnya tidak terasa lagi dekapan itu.
Memang umur orang tidak tahu sampai berapa.Aku sangat sedih ketika aku tau bahwa Aji mengidap Kanker otak.Yang sekarang sudah mulai menambah menuju stadium akhir.Saat itu hati rasanya terpukul, mengapa tinggal dihari-hari terkhir aku bisa bertemu dengan orang yang selama ini telah mengenalkanku pada sebuah rasa manis dengan taburan kasih sayang didalamnya?.Serasa hari-hariku diliputi pertanyaan-pertanyaan penyeselaan.Apakah aku memang tidak pantas mencintai dan dicintai? Baru saja aku merasakan rasa cinta itu aku sudah ditinggalkan oleh Aji.Selamat jalan Aji, semoga kamu mendapat tempat terbaik diSana.
Kini hari-hariku mulai agak sepi karena tak ada lagi yang menemaniku hunfot,bercanda, dan bermain-main.Kali ini aku hanya bisa mengisi dengan fakus pada fotografi dan cita-citaku sebagai seorang psikologi.Beberapa hari aku masih menyimpan kesedihan, tapi lagi-lagi aku coba menepisnya dengan prestasi dibidang psikologi maupun foto.
~~~~~
Kali ini
aku mulai mengumpulkan beberpa foto untuk aku lombakan diajang bergengsi
pemfotoan.Tanggal perlombaan tiba.Aku segera mempersiapkan diri untuk
menyiapkan foto-foto hasil karya potretku.Ditempat itu banyak sekali orang yang
melihat sekaligus memberikan vottingnya untuk nilai para peserta.Sekitar lima
jam perlombaan.Dan sekarang pengumuman.Aku deg-degan setengah mati.Sampai
akhirnya pembawa acara menyebut juara 2 “Deandra Khalifa”.Aku berteriak puas
saat itu dan langsung keatas panggung untuk mengambil hadiah.Setelah turun aku
ternyata disambut oleh Tio.Aku sempat kaget, karena aku rasa hari ini hadiah
bertubi-tubi menimpaku.
“Selamat ya Dea” ucap Tio yang langsung memelukku erat.Dipelukan Tio aku merasakan bahagia sebagaimana pelukanAji disitu, wangi badannya yang sama dengan Aji membuat aku meneteskan air mata.”Hey hey seneng kok sedih” tanya Tio sambil mengusap air mata dipipiku.Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.
Semenjak saat itu kami mengawali pendekatan.Pendekatan Tio membuat aku perlahan melupakan sosok Aji walaupun tidak bisa sempurna.Tapi setidaknya Tio yang sekarang berbeda dengan yang dulu.Sekarang dia lebih bisa mengendalikan amarah, yang terutama dia bisa menyayangiku sepenuh hati.Tanpa kusadari hari-hariku kini sudah dihiasi oleh dewa.Yang mampu membuatku kembali merasakan rasa cinta dan tidak takut lagi mencobanya.
Selama lima tahun kami pacaran akhirnya kami memutuskan untuk menikah diusia 26 tahun.Aku bahagia bisa menjadi seorang nyonya Tio.Kami berjanji akan selalu bersama selama matahari masih terbit dari timur dan akan terbenam ditimur pula.Sekarang aku ingin menulis, menulis perjalanan cintaku ini dengan tittle Cintaku bersemi Di Kota Pahlawan. :)
“Selamat ya Dea” ucap Tio yang langsung memelukku erat.Dipelukan Tio aku merasakan bahagia sebagaimana pelukanAji disitu, wangi badannya yang sama dengan Aji membuat aku meneteskan air mata.”Hey hey seneng kok sedih” tanya Tio sambil mengusap air mata dipipiku.Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.
Semenjak saat itu kami mengawali pendekatan.Pendekatan Tio membuat aku perlahan melupakan sosok Aji walaupun tidak bisa sempurna.Tapi setidaknya Tio yang sekarang berbeda dengan yang dulu.Sekarang dia lebih bisa mengendalikan amarah, yang terutama dia bisa menyayangiku sepenuh hati.Tanpa kusadari hari-hariku kini sudah dihiasi oleh dewa.Yang mampu membuatku kembali merasakan rasa cinta dan tidak takut lagi mencobanya.
Selama lima tahun kami pacaran akhirnya kami memutuskan untuk menikah diusia 26 tahun.Aku bahagia bisa menjadi seorang nyonya Tio.Kami berjanji akan selalu bersama selama matahari masih terbit dari timur dan akan terbenam ditimur pula.Sekarang aku ingin menulis, menulis perjalanan cintaku ini dengan tittle Cintaku bersemi Di Kota Pahlawan. :)
0 komentar:
Posting Komentar